Trekking Purwokerto Notog – Kebasen

      Hey Sob!!. 

      Sik urip ta?!! hehe

 

Nah sob, sesuai judul postingan di atas, kali ini ane mau share informasi nih seputar perjalanan super duper seru ane hunting kereta api di Purwokerto sooobbb…

 

Nah sebelumnya ada yang belum tahu Purwokerto?? Gimana tahu gak? ta’hitung mundur ya,

3

2

1

tet tot!!!

 

Oke sip. Kalau Sob-Sob belum tahu, bakalan ane kasih tahu dulu.

 

eh maaf bercanda hehe

 

   Jadi, Purwokerto adalah sebuah kota di Provinsi Jawa Tengah yang berada di kaki Gunung Slamet. Kota ini merupakan Ibu Kota Kabupaten Banyumas. Menilik dari tinjauan geografis, Kabupaten Banyumas ini dikelilingi oleh Kabupaten Cilacap di sebelah Selatan dan Barat, Kabupaten Purbalingga di sebelah Timur dan Kabupaten Brebes di sebelah Utara.

 

Mungkin cukup sekian tinjauan dari aspek geografisnya. Lebih lengkapnya silahkan tanya mbah google atau Mas Wiki.

 

      Kembali lagi ke topik. Objek hunting kali ini adalah terowongan Notog dan terowongan Kebasen. Nah, untuk mencapai kedua tempat tersebut ane harus ke Purwokerto dahulu. Singkat cerita, pada tanggal 26 September 2013 ane menumpang kereta api Progo relasi Pasar Senen – Jogjakarta yang berangkat pukul 22.00. 

Oya, pada trekking kali ini ane ditemani teman ane yaitu Komagi (Agi).

 

Perjalanan naik Progo cukup menghipnotis sob. Sesaat setelah melewati Jatinegara, ane sudah mulai tidur ayam. Bahkan saat ane tersadar kembali, posisi kereta sudah sampai di Cirebon Prujakan dengan jam menunjukkan angka 1.30. 

 

Setelah berhenti cukup lama, kereta kembali berangkat. Sekitar pukul 03.45 pagi tanggal 27 September 2013, kami sampai di Stasiun Purwokerto. Setelah turun dari kereta, kami pun bertekad untuk menunggu matahari terbit sembari sholat subuh di Musholla Stasiun.  

 

Saat matahari telah terbit, 

Gilaaaaaa!!!, 

muncul sebuah pemandangan bagus sobbb saat kita memandang ke arah utara dari peron stasiun, ini nih..

emplasemen stasiun ber-background Gunung Slamet

 

Setelah keluar dari stasiun dan dapat sarapan pengganjal perut berupa serabi, ane dan agi harus mencari cara untuk menuju Notog. Berdasarkan tanya jawab dengan penduduk lokal,  rute untuk ke Notog adalah sebagai berikut:

 

Naik Angkot ke Selatan dari Sawangan —> Turun di perempatan Besar —-> Naik mini bus (besarnya kayak Kopaja/Metromini) arah Cilacap via Notog —-> Turun di Tugu Notog.

 

Sesampainya di Notog, ane langsung berlari menuju rel yang letaknya di sebelah Barat jalan raya. Setelah menemukan rel, diperlukan jalan lagi sejauh 800 meter ke arah Selatan disertai menyeberangi kali pula untuk mencapai Terowongan Notog. Setelah 10 menit jalan akhirnya sampailah kita di terowongan Notog.

 

Eng..Ing..Eng…

Terowongan Notog

Nah, di terowongan notog ini kami mengetem selama sejam untuk menunggu lewatnya KA Sawunggalih sekitar pukul 08.30. Akan tetapi tak dinyana sob.. pada pukul 08.10 tiba-tiba sudah ada kereta lewat yaitu KA Ketel dari Maos menuju Purwoerto. Ini dia hasil jepretannya:

Hanya saja yang disayangkan adalah KA Sawunggalihnya tidak terpotret dengan baik tidak bisa ditampilkan, hehe

 

Nah, setelah selesai di Notog, kami melanjutkan kembali perjalanan menuju Kebasen. Untuk menuju Kebasen, kita menumpang bis yang sama yaitu bis menuju Cilacap, dan turunnya di Bendung Gerak Serayu. 

 

Sobbb!!! Soobb!!!,..

jika kalian seorang pecinta pemandangan-pemandangan yang menyejukkan hati maka kalian wajib kesini, yaitu ke Tepian Sungai Serayu di Petak Notog – Rawalo. Pemandangannya itu lho, bener-bener mantep. Bayangkan aja ya, sungai yang biru, awan putih, langit biru, bukit hijau berhias pohon-pohon pinus berbaur menjadi satu dalam satu frame mata kita..

 

Sooobbb!!! Mantep abis soobb!!..

Setelah menyebarangi bendungan Gerak Serayu, jarak kami tinggal 800 meter lagi menuju Terowongan Kebasen. Dan benar saja, setelah menyeberangi bendungan dan sedikit berjalan menuju arah selatan, mulut Terowongan Kebasen sudah dapat terlihat.

 

Terowongan Kebasen adalah terowongan yang unik. Selain panjangnya yang hanya 80 meter, terowongan ini dilalui oleh jalan raya Purwokerto – Kebasen – Sampang di bagian atasnya seperti yang terlihat di foto atas.

 

Di terwongan ini, ane pun ngespot untuk menunggu dua kereta yang lewat yaitu Fajar Utama Jogja tujuan Jakarta dan Bogowonto tujuan Jakarta juga. 

Tepat pukul 09.30, kereta Fajar Utama Jogja pun melintas.

 

30 menit setelah Fajar Utama, sebenarnya ada KA Bogowonto yang melintas. Hanya saja tidak terpotret dengan apik. Jadinya ya hasilnya g bagus untuk ditampilin :( 

 

Rencana semula, ane pingin mencegat KA Kutojaya Utara di Jembatan Kali Serayu. Akan tetapi, karena permasalahan dengan perut akhirnya kami pun memutuskan pacar kami masing-masing. Eh,.. salah😀, maksudnya memutuskan untuk jalan ke Kebasen untuk mencari masjid.hehe

 

nah!!, saat otw ke Kebasen, tiba-tiba insting KA ane aktif. (sebenernya kedengaran ada bunyi pintu perlintasan nutup se.hehe). Langsung ane siapin kamera dan JBRET!!..

 

 

 

Setelah selesai dengan urusan perut dan sholat jum’at, ane lanjutin huntingnya. Kali ini spot yang dipilih adalah Stasiun Kebasen karena dekat dari masjid tempat kami istirahat tadi. Ini nih hasil iseng-iseng potret di lingkungan Stasiun Kebasen..

 

 

 

Dan terakhir adalah saat pukul 14.00, PPKA setempat mengatakan bahwa KA Argo Dwipangga tujuan Solo Balapan akan melintas langsung.

Tak banyak bicara, langsung ane ngetem di suatu spot panas-panasan, dan hasilnya, 

Tatatara!!

 

Melintasnya KA Argo Dwipangga tadi menandakan perburuan kereta edisi purwokerto telah usai. Ane dan Agi pun langsung naik bis lagi balik ke Purwokerto. Sebenernya se, kereta kami untuk balik depok masih lama se, masih jam 11 malem. Cuman ya, kami juga mau kulineran di Purwokerto.. Kulineeeer Soobb!!😀

 

1. Ada Sroto Jalan Bank yang terkenal enak yang sudah menunggu untuk diicipi

2. Ada mendoan

3. Coklat Inyong. Soklat yang katanya se khas Banyumas.hehehe

 

Sekedar tips aja se, paling enak dalam melakukan trekking sampai notog dan kebasen ini ada sepeda motor yang menemani. Jadi kalo sob-sob punya temen anak purwokerto atau temen yang kuliah di UNSOED sangat direkomendasikan untuk pinjem motornya. Cuma bagi sob-sob yang hobby jalan, gpp deh melakukan seperti yang udah ane lakukan. 50% Jalan kaki dan 50% nge-Bis hehehe

 

Oke Sobbb, 

thanks udah sempetin baca post ini, tunggu post berikutnya..

 

Wassalamualaykum

 

Hidup Mblusukan Kereta Api ;D

 

Terowongan Dwi Bakti Karya

Indonesia memliki jalur perkeretaapian yang eksotis. Hal ini disebabkan oleh kontur dan kondisi geografis dari negeri ini. Tidak heran jika kita menemukan jembatan-jembatan kereta yang indah dan terowongan-terowongan kereta yang cukup panjang di Indonesia. Perlu diketahui, total ada 19 terowongan kereta di Indonesia dengan panjang yang bervariasi mulai dari 100 m – 1200 m.(1) Namun, beberapa diantaranya sudah tidak dipakai lagi karena jalur keretanya sudah dinonaktifkan. yaaahh sayaaang banget yaaa.😦

Bersama dengan terowongan Eka Bakti Karya, terowongan Dwi Bakti Karya merupakan terowongan kereta api yang dibangun pasca Indonesia merdeka yaitu pada tahun 1969. Hal ini membuktikan bahwa Insinyur Indonesia sebenarnya hebat-hebat dan kompeten😀

kembali ke topik–>  Terowongan Dwi Bakti Karya terletak di Kabupaten Malang kira-kira 3-4 km dari kota Kecamatan Sumberpucung. Terowongan ini dibuat sebagai bentuk konsekuensi dari relokasi jalur KA Malang-Blitar ke rute baru yang berbukit karena rute lamanya terendam proyek pembangunan waduk Karangkates yang sekarang dikenal sebagai Bendungan Ir.Sutami. Begitu sob…

Nah, itu tadi sekilas sejarah pembangunan terowongannya. (cukup buat ngantuk jg ya.hehe)

Berikut adalah penampakan terowongan sepanjang 400 m ini:

ImageImage

ImageImage

Sebenarnya tidak jauh dari Terowongan Dwi Bakti Karya ada terowongan Eka Bakti Karya. namun karena terbatas waktu jadi belum sempat untuk mengecek TKP gan.hehe

Oya, lokasi terowongan ini cukup bagus untuk motret kereta api yang lewat. Jadi sangat direkomendasikan lah untuk tempat fotografi gitu. (lihat saja foto-foto di atas.hehe)

Nah, untuk mencapai lokasi tidak susah. Dari Sby dan Malang, sobat (masbro) bisa mencapai lokasi dengan naik kereta api Penataran lalu turun stasiun Sumberpucung. Kalau sobat-sobat dari Kediri, Blitar, dan Tulungagung, tinggal naik kereta Dhoho dan turun Stasiun Sumberpucung juga. Setelah itu, sobat-sobat bisa milih mau jalan kaki menyusuri rel sepanjang 3-4 km atau naik kendaraan umum tujuan lahor lalu turun pas sebelum masuk pintu gerbang bendungan lahor lalu jalan dikit ke arah kiri sobat (arah timur kurang lebih 200-300 meteran lah). Kalau naik kendaraan pribadi ya monggo dan malah lebih gampang karena tinggal menuju bendungan lahor saja dan parkirkan kendaraan di situ.

Silahkan mencoba bro, Semoga bermanfaat😀

note: Oya kalo pas bulan puasa sangat tidak disarankan untuk pilihan yang jalan kaki, Puuuaaanaaas bro jalan menuju TKP.nya

Sumber referensi: (1) Majalah KA Edisi 32: 6-32, Maret 2009

Sumber gambar: Dokumentasi Pribadi